Lompat ke konten utama

Husni Baradja

Mengubah Pecahan ke Desimal: Cara Menjelaskan yang Masuk Akal untuk Anak

Di banyak kelas, desimal diajarkan sebagai bab tersendiri, beberapa minggu setelah pecahan selesai. Akibatnya anak menyimpan keduanya sebagai dua sistem terpisah, dan hubungan di antaranya tidak pernah terbentuk. Padahal 3/4 dan 0,75 adalah bilangan yang sama persis, ditulis dengan dua cara.

Mulai dari nilai tempat, bukan dari pembagian

Anak sudah mengenal nilai tempat sejak kelas awal: satuan, puluhan, ratusan. Yang perlu ditambahkan hanyalah arah sebaliknya. Setiap melangkah ke kanan, nilainya dibagi sepuluh. Setelah satuan datang persepuluhan, lalu perseratusan.

Dengan cara ini, 0,7 tidak perlu dihafal. Angka itu berada di tempat persepuluhan, jadi artinya tujuh persepuluh, yaitu 7/10. Hubungannya langsung terlihat, tanpa prosedur apa pun.

Tiga kelompok pecahan, tiga tingkat kesulitan

Penyebut 10, 100, atau 1000

Ini yang paling mudah dan harus dikuasai lebih dulu. 7/10 menjadi 0,7. 23/100 menjadi 0,23. Tidak ada pembagian, hanya membaca nilai tempat.

Penyebut yang bisa diubah menjadi 10 atau 100

Di sinilah pecahan senilai terpakai lagi. 3/4 dikalikan 25/25 menjadi 75/100, yang berarti 0,75. Anak yang sudah kokoh di pecahan senilai akan menganggap ini mudah. Anak yang belum akan tersandung, dan itu petunjuk penting bahwa masalahnya bukan di desimal.

Penyebut yang tidak bisa diubah

1/3 menjadi 0,333 dan seterusnya. Baru di tahap ini pembagian panjang benar benar dibutuhkan. Kalau diperkenalkan sebagai langkah pertama, anak akan menganggap seluruh topik ini soal prosedur.

Miskonsepsi yang paling sering muncul

  • Membaca 0,7 sebagai lebih kecil daripada 0,25 karena 7 lebih kecil daripada 25. Anak memperlakukan angka di belakang koma sebagai bilangan bulat. Perbaikannya lewat garis bilangan.
  • Menganggap 0,5 dan 0,50 berbeda nilainya. Tunjukkan bahwa 5/10 dan 50/100 menempati titik yang sama.
  • Menulis 1/3 sebagai 0,3 tanpa keterangan. Bicarakan pembulatan secara eksplisit, jangan dibiarkan menjadi kebiasaan diam diam.

Latihan yang menghubungkan keduanya

Latihan terbaik adalah yang memaksa anak berpindah bentuk berkali kali:

  1. Urutkan campuran pecahan dan desimal dari yang terkecil, misalnya 0,4 lalu 1/3 lalu 0,35 lalu 2/5.
  2. Berikan satu titik pada garis bilangan, minta anak menuliskannya dalam dua bentuk.
  3. Minta anak menyebutkan bentuk mana yang lebih praktis untuk situasi tertentu, misalnya harga, ukuran resep, atau pembagian kelompok.

Latihan ketiga jarang diberikan, padahal paling dekat dengan kehidupan nyata. Desimal lebih praktis untuk uang dan pengukuran. Pecahan lebih jelas untuk pembagian dan perbandingan.

Jika anak lancar di kelompok pertama tetapi macet di kelompok kedua, akar masalahnya hampir pasti ada di pecahan senilai, bukan di desimal. Pemetaan semacam ini yang dikerjakan assessment diagnostik AME secara otomatis.

Mau tahu di mana persisnya anak tersandung?

Assessment diagnostik gratis, hasilnya berupa peta kompetensi, bukan satu angka.