Lompat ke konten utama

Husni Baradja

Assessment Diagnostik dan Ulangan Harian: Apa Bedanya untuk Orang Tua

Ketika rapor keluar dan nilai matematika anak turun, pertanyaan pertama biasanya: harus les di mana? Padahal ada satu pertanyaan yang lebih dulu perlu dijawab: turun karena apa?

Ulangan harian dan assessment diagnostik sama sama menghasilkan angka, tetapi keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Memahami bedanya menghemat banyak waktu dan biaya.

Ulangan harian mengukur hasil

Tujuannya menilai seberapa banyak materi yang sudah dikuasai setelah diajarkan. Soalnya menyebar ke seluruh bab, tingkat kesulitannya kurang lebih seragam, dan hasilnya berupa satu angka atau satu huruf.

Kekuatannya: cepat, mudah dibandingkan antar waktu, dan cocok untuk pelaporan.

Keterbatasannya: nilai 60 tidak memberi tahu apa pun tentang penyebabnya. Anak yang salah karena tidak paham konsep dan anak yang salah karena kurang teliti bisa mendapat angka yang persis sama.

Assessment diagnostik mencari penyebab

Tujuannya bukan menilai, melainkan menemukan letak kesulitan. Soalnya sengaja disusun agar setiap pilihan jawaban yang salah mengarah ke satu dugaan tertentu. Tingkat kesulitannya menyesuaikan jawaban sebelumnya, sehingga jumlah soalnya bisa jauh lebih sedikit.

Hasilnya bukan satu angka, melainkan daftar. Kompetensi mana yang sudah kokoh, mana yang goyah, dan miskonsepsi apa yang terdeteksi.

Perbandingan singkat

  • Kapan dipakai. Ulangan setelah materi diajarkan. Diagnostik sebelum menentukan apa yang perlu dipelajari.
  • Bentuk hasil. Ulangan memberi skor. Diagnostik memberi peta.
  • Yang dilakukan setelahnya. Setelah ulangan, biasanya remedial pada bab yang sama. Setelah diagnostik, biasanya mundur ke prasyarat yang belum berdiri.
  • Efek pada anak. Ulangan membawa tekanan karena berpengaruh pada nilai. Diagnostik tidak menilai, sehingga anak lebih jujur mengerjakannya.

Poin terakhir sering diremehkan. Anak yang tahu jawabannya akan dinilai cenderung menebak atau mencontek. Anak yang tahu ini bukan penilaian lebih sering menunjukkan kesulitan yang sebenarnya.

Cara membaca hasil diagnostik

Ada tiga hal yang layak dicari:

  1. Kompetensi paling awal yang bermasalah. Ini titik mulai, bukan yang paling parah. Memperbaiki dari yang paling awal biasanya ikut memperbaiki yang di atasnya.
  2. Miskonsepsi yang berulang. Jika satu keyakinan keliru muncul di beberapa soal, itu prioritas utama.
  3. Jarak antara kompetensi yang dikuasai dan materi kelas saat ini. Kalau jaraknya jauh, mengejar materi kelas tanpa menutup jarak itu hanya menambah frustrasi.

Keduanya dibutuhkan

Diagnostik tidak menggantikan ulangan. Sekolah tetap perlu mengukur pencapaian, dan orang tua tetap perlu tahu posisi anak terhadap tuntutan kurikulum. Yang perlu berubah hanyalah urutan berpikirnya: baca diagnostiknya dulu untuk tahu harus mulai dari mana, baru pakai nilai ulangan untuk memantau apakah perbaikannya berjalan.

Assessment diagnostik AME terbuka gratis dan hasilnya bisa dibaca langsung, tanpa perlu berlangganan lebih dulu.

Mau tahu di mana persisnya anak tersandung?

Assessment diagnostik gratis, hasilnya berupa peta kompetensi, bukan satu angka.